GEREJA BERADA PADA GARIS NETRAL DAN UNIVERSAL TERLEPAS DARI SEKULARISME

GEREJA BERADA PADA GARIS NETRAL DAN UNIVERSAL TERLEPAS DARI  SEKULARISME. 
Banyak Gereja sekarang sudah menjadi ikan mati di arus air. Gereja-gereja di Papua menjadi sarang iblis. Pemenuhan kebutuhan individu menjadi andikator berlakukan kompromi dan memilih jalan salah demi ekonomi. Dengan ucapan kata-kata mencap madu ambil simpati pihak dengan ucapan "Otsus adalah berkat pemberian Tuhan bagi orang Papua" keluarkan pernyataan-pernyataan yang mendukung kebijakan pemerintah dengan diatasnamakan nama suatu denominasi oleh seorang individu, sesungguhnya tujuannya untuk kepentingan isi perutnya diobyekkan denominasi tersebut. Bahan pendukung gereja-gereja tersebut bersama aktor provokator dan merekayasa, interpretasi Roma 12:1-4 menjadi bahan pijakan mendukung pemerintah apapun baik ataupun buruknya pelaksanaan kebijakan terima begitu saja. Tidak sampai pada baca kitab lain yang ada relevansi. Misalnya Imam Danel di Perjanjian Lama dan Rasul Yohanes adalah salah satu tokoh tersohor dalam Alkitab Perjanjian Baru, karena ia berperan melawan sistem tangan besi oleh militer kerajaaan Romawi di bawah sistem Imperium Dominiun menindas atas warga yang penganut ajaran Kristen tetapi juga warga lain yang tidak mengindahkan peraturan dan intruksi penguasa. Tetapi dia bertahan dan melewati semua proses itu dengan mempertahankan Kebenaran Firman Tuhan melalui sikap Iman kepada Yesus Kristus yang tak tergoyahkan. Ia berdiri atas kaki kebenaran Firman Tuhan (Yesus Kristus), tidak kompromi dan dengan jalan berbicara dengan berani dan tegas. Itu merupakan tiga dasar pokok yang harus dimiliki pengiat kebenaran. Dia tidak terlibat dalam dunia politik praktis. Dia mempopulerkan nama Yesus sebagai pusat kebenaran dan semua kerajaan, bangsa dan seluruh ciptaan harus tunduk dan taat di bawah Otoritas kuasa Kristus. Maka itu, gereja harus sertai penyertaan Roh Kudus untuk menafsirkan kebenaran melalui pertolongan Roh Kudus, sebagai kekuatan yang mengilhami kebenaran-kebenaran yang dikerjakan dengan kemampuan min sed manusia sesuai maksud dan kehendak TUHAN yang Ia ingin dinyatakan kepada manusia. Jika penafsirannya ditunggangi dengan berbau kepentingan-kepentingan akan salah tafsir dan akhirnya salah mempraktikkan. Sehingga gereja yang menjadi gereja upahan. Tafsirannya berdasarkan kemampuan intelektualitas. Tidak sertai pengilhaman Roh Kudus, selaku oknum penerjemah kebenaran ke bahasa dan dalam konteks untuk sinkron dengan budaya atau situasi pada suatu tempat dalam kehidupan manusia. 

Pada dasarnya gereja dan negara memiliki asas yang berbeda-beda. Negara mempunyai asasnya ideologi dan gereja mempunyai asasnya Alkitab. Negara berada di bawah pengawasan gereja dan Gereja tidak ada jaminan berada di bawah pengawasan negara kecuali di bagian tertentu. Karena gereja berada pada garis netral yang universal tanpa batas apapun kaitannya dengan sekulerisme. Gereja pada pendiriannya berpusat pada hanya Yesus Kristus sebagai pusat terakhir. Gereja berdiri pada garis tengah sebagai aktor yang dapat memberikan perbaikan jika keluar dari garis batas melalui implementasi kebijakan mengobyekkan rakyat jelata dan miskin serta kaum yang tak bersuara/lemah. Itulah agenda perjuangan Yesus Kristus. Gereja sebagai proyek Tuhan Yesus, manusia yang mengelola tidak keluar dari budaya dan motif Kristus untuk tidak berlaku kompromi tetapi berdiri tegak di jalan yang benar  dan tidak melakukan penyimpangan dan penyelewengan. 

Yesus mengancam para Sanhedrin Yahudi karena mereka berlaku imoralitas. Mereka suka membohongi umat dengan doa-doa yang bertele-tele, berharap upah yang besar, suka berdiri di depan jemaah. Ahli taurat menterjemahkan Hukum Taurat berparalel dengan budaya Yahudi dan kehidupan orang Yahudi, menghasilkan hukum sipil dan hukum rituality. Ditafsirkan hukum Musa berdasarkan dengan kemampuan intelektual manusia dan menurut apa yang mereka baik sesuai budaya orang Yahudi.
Sementara mereka abaikan kebenaran-kebenaran yang terkandung di dalam hukum itu. Hukum itu suatu sarana manusia untuk dapat mengenal dan menerima serta menghidupi kebenaran tersebut dalam kehidupan manusia dengan kehidupan yang berpusat pada Tuhan pencipta langit dan bumi dengan jalan kerelaan dan kesungguhan hati. Bukan mempraktekkan hukum sebagai suatu kewajiban secara organisasi yang harus taat.

Dengan demikian, Gereja berdiri pada jalan tengah untuk melihat semua yang melakukan tidak sesuai yang semestinya, maka disitulah menjadi kesempatan gereja memberikan perbaikan melalui kritik suara profetik. Yesus sangat tegas penyeguranNya dengan pernyataan-pernyataan yang bagi orang Yahudi mengancam eksistensi mereka sebagai kaum rohaniwan menurut budaya Yahudi. 

Sudah jelas perlakuan bias dan kejamnya negara atas orang Papua tidak adil. Hukum tidak berpihak, kebijakan yang sepihak-pro-jakarta dan rakyat Papua menjadi bayang-bayang membawa pandangan kita kian kemari pusing oleh permainan palsu di tanah ini. Karena itu gereja menyuarakan suara Profetical Voice. Gereja menegur dan kritik penguasa yang menyalahgunakan kekuasaan untuk demi perbaikan nasip dan masa depan negaranya. 

Maka gereja menjadi tempat tumpuan harapan terakhir. Gereja menjadi benteng terakhir. Gereja menjadi tempat membelah bagi kaum yang tak bersuara,  kelas bawah dari stratifikasi sosial.

Masih lanjut!

Komentar

Postingan Populer