BERANDA: DISKUSI SEPAHAM (KITA SADAR DIRI)

DISKUSI SEPAHAM
KITA SADAR DIRI

BERANDA

Melihat, amati dan termenung beragam persoalan yang kita lihat, alami dan rasakan yang terjadi di depan kita, ikuti lewat media massa, mendengar lewat genggaman via telepon dan ditontonkan konten klipan video di kanel youtube, bahkan ayah, mama dan saudara kita sendiri menjadi korban di tangan singa raksasa. Banyak perusahan ekstratif menjadi sumber melahirkan berbagai-bagai bentuk problem yang  akhirnya melahirkan system, kebijakan, peraturan penguasa berpola rasis yang sistemik. Para penguasa yang memiliki kewenangan perumusan hukum, menentukan kebijakan dibuat hanya diperuntukkan bagi para berjuis, dan klien terus tersingkirkan dari berbagai aspek dan sektor. Para pelaku rasisme tersempunyai dibalik ekstrimis para penguasa dan di abaikan nasip kliennya. 

Setalah termenung bisu kita merasa jengkel dan menyimpan dendaman terhadap mereka yang membuat rekayasa dan provokasi.  Secara psikis batin kita terus tersiksa dalam lapangan mimpi ilusi yang panjang. Batin kita tersika dan sakit. Sering kali kegelisahan hati kita merampiaskan dalam bentuk demonstrasi verbal secara langsung berujung pada unjuk rasa dan setelah itu lupa sebentar, hilang  kata-kata yang sebentar kita keluarkan. Sehingga dalam ruang sendiri terus membisu, seolah-olah merasa sebentar tidak ada sesuatu yang terjadi.

Behavior anak mudah papua telah dibentuk oleh situasi sosial. Perasaan jengkel, gelisah dan dendaman terus menghantui kita. Kita berada pada permukaan yang kosong dan frustrasi. Terus kita menumpuk tersimpan dalam pikiran kita sendiri, membuat diri sendiri tersiksa dan sakit secara batin. Marilah kita saling berbagi pengalaman dan dan pikiran. Ada cara yang bisa kita tempuh. Kita merubah paradigma kita, mind set kita dan pola fikir dan tindakan kita yang selama ini salah sasaran dan alamat.

Mari mulai diskusi membangun kesadaran kita dan hasilnya buat literasi. Kita saling membagi gagasan yang imajiner, ide yang kreatif dan putusan yang prakmatis. Jika kita tinggal diam dan menjadi penonton kita akan terus disingkirkan. Jika terus menjaga budaya apatis dan susah ekspresikan rasa sakit kita karena dibutahkan oleh anggapan yang menyepelehkan ragam dilema ini, kita akan punah dari negeri kita sendiri. Mari kita ambil sikap. Penyesalan tak akan berguna ketika tidak ada kewenangan dan tidak memiliki kekuatan. Apa yang bisa kita lakukan perbuatlah karena perubahan akan terjadi ketika ada tindakan.

Diskusi sepaham di bawah sorotan tema sentral “KITA SADAR DIRI” adalah bermula dari pergumulan panjang setelah melihat majemuk dilema yang tentunya kita harus sadar dengan jalan upaya kesadaran mulai dari individu, kelompok sampai pada masyarakat pada umumnya. Diskusi merupakan salah satu pilihan yang terbaik menurut kami, sebagai mahasiswa lebih spesifik mahasiswa Teologi. Mahasiswa Teologi memiliki tanggung jawab yang besar dan berat. Di tengah problem ini, tentu mahasiswa memiliki seni dan metode serta jalan yang lebih khas lagi lewat berbagai bentuk usaha profan. Usaha pertama yang bisa kita lakukan adalah menyiapkan diri secara kognitif, resolusi dena rencana dan usaha lainnya yang dibangun secara individu. Mahasiswa Teologi tidak bisa memiliki senjata untuk melawan musuhnya secara fisik, tidak bisa juga belajar menyimpang pendendaman terhadap para musuhnya. Pemudah Kristen harus menjadi teladan buat semua lewat tindakan, penuturan kata dan kehidupannya. Menjadi garam yang memberikan pengasingkan dalam budaya yang generasinya congkak dan bengkok hati dengan berbelok dari jalan kebenaran. Menjadi lampu untuk memberikan penyerangan di dalam kegelapan dosa. Figuratif ini mengambarkan peran dan kehidupan seorang Kristen di tengah dunia yang diwarnai dosa dan masalah. Pemuda Kristen memiliki dasar kebenaran yang absolut. Belajar tentang berlaku jujur, transparan dan akuntabel dengan jalan cara kepemimpinan secara manajemen Kristen. Pendirian hidup di atas kebenaran Firman Allah (Alkkitab), berakar dan berimani di dalam atau kepada Tuhan Yesus Kristus dan berani dengan tegas berbicara atas nama kebenaran. Apa yang ada di dunia adalah seteru Allah, bermusuhan dengan Allah dan anak-anak Allah. Karena itu pemuda Kristen harus bersandar kepada Firman Allah dan menerapkan budaya dan nilai-nilai hidup Kristiani di tengah gejolak, dunia yang tak persahabatan ini. Kualifikasi seorang gembala teruji berawal dari kesiapannya untuk menanggung resiko ketika kita bersedia menanggung resiko. Karena kepemimpinan bukan sekedar pengaruh tetapi lebih dari pada itu sikap dan komitmen yang siap menanggung resikonya.

Realita social ini mendesak dan mengajak kita untuk termenung dan sadar diri baik tentang siapakah diri saya?, saya berada dimana?, dalam konteks apa? Dan apa yang bisa kita lakukan kita buat sesuai tempat dan bidang spesial masing-masing untuk selamatkan diri kita sendiri dari kepunahan. Marilah kita berubah cara mind set, sasaran sikap kita lalu lakukan apa yang bisa kita buat, karena perubahan itu akan terjadi ketika ada tindakan. Masalah hari ini adalah masalah berbagi rasa dan karsa dari hati nurani. Masalah berbagi ide dan pengalaman dari hati ke hati. Kedasaran ini harus mulai dari individu. Dunia cukup untuk tujuh orang saleh tetapi tidak cukup untuk 100 orang serakah. Kesadaran diri pertama penyerahan diri (mempersembahkan tubuh) sepenuhnya kepada Tuhan sebagai persembahan hidup dan kudus (Roma 12:1-2). Menyadari bahwa siapakah kita ini? kita berada di mana? Dalam konteks apa? Ini kemudian menjadi landasan yang kuat dalam inisiatif untuk mengadakan diskusi yang di sebut dengan Diskusi Sepaham. Setelah mengenal dan sadar diri, maka beranjak ke tahap berikutnya mulai berfikir bahwa apa yang bisa kita buat mulai dari tempat kita masing-masing sebagai mahasiswa Teologi. Sadar diri juga bahwa selama ini kami paham tentang kemerdekaan itu dimengerti dari perspektif yang khusus tentang mewujudkan kemerdekaan melalui suatu perjuangan di bawah satu idologi perjuangan. Lebih dari pada itu, kemerdekaan itu mencul ketika kesadaran diri keluar dari dalam diri individu dan masyarakat tentang masalah dan konteksnya serta menentukan sikap tidak melalui gerakan kekerasan, akan tetapi sumber kekuatan bangkit dari dalam masyarakat sendiri tanpa harapkan bantuan pihak luar. Pemberdayaan dan kemandirian terlahir dari kesadaran klien mengelola potensi yang dimiliki secara kemampuan pengetahuan, dan juga kreasi untuk mengelolah potensi sumber daya lokal yang tersediah terdapat di sekitar kita atau usaha lain lewat perjuangan pulpen dan penah (literasi), pembela HAM, sector bisnis mikro dan lain sebagainya. Perpaduan antar bidang-bidang yang berbeda untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya pemberantasan sistem yang menjajah dari semua aspek dibawah satu visi. Usaha itu terlepas dari hubungan yang tidak berpihakan kepada nasionalisme papua dan atau penguasa di atas. Dari bidang-bidang yang berbeda-beda menyatukan dalam satu ikatan visi yang sama untuk menciptakan kemandirian dan pemberdayaan secara aspek ekonomi, pendidikan, hukum, agama, politik dan sosial serta sector dan aspek lainnya. Dari situlah kemerdekaan akan nampak seperti bintang fajar menyinari bumi.

Namun demikian, usaha ini berawal dari kesadaran dari hati nurani oleh individu. Saling berbagai rasa, karsa dan pengalaman dari hati ke hati melalui diskusi. Diskusi menjadi factor yang menentukan sikap kita. Diskusi, seminar melahirkan gagasan baru menentukan sikap kita. Penyesalan tidak akan berguna ketika tidak ada kewenangan, dan tidak memiliki kekuatan.

masih lanjut...!!!

Komentar

Postingan Populer