MUNCULNYA NAMA SUKU
MUNCULNYA NAMA SUKU
Oleh: Hengki Wamuni (Mahasiswa STT Walter Post Jayapura Papua)
Kata-kata pengejekkan terhadap suku lain menjadi bahan cerita bermula dari seorang personal, kelompok sampai meluas disekitarnya, sehingga saat-saat tertentu ketika suku tersebut lewat, mereka tanpa sadar mengucapkan kata pengejekkan dilontarkan kepada mereka yang melewati di muka mereka. Semakin meluas pengetahuan tersebut di kalangan masyarakat umum sampai akhirnya menjadi sebuah nama suku.
Sama dengan pada kontemporel dunia modern, penembelan stigma diberikan oleh orang-orang yang budayanya sudah merasa maju pada taraf yang lebih baik. Tetapi juga pada sisi lain pelabelan di berikan karena perbedaan warna kulit, white supremasi dll.
Sebenarnya nama suku yang autentik terdapat dalam masing-masing bahasa yang diucapkan warga secara rutinitas (sehari-hari). Misalnya miga mbalaga (Ubi asli/murni). Migani mene (orang asli).
Tingkah laku masyarakat tersebut mengambarkan ciri khas terkhusus yang dimiliki suku tertentu. Misalnya masyarakat suku yang bercocok hidup di pegunungan memiliki budaya busana mengenakkan Koteka dan Cawat mengambarkan budaya kasih.
Kebudayaan merupakan ekpresi eksistensi manusia itu sendiri. Budaya itu bersifat abstrak yang dapat merealisasikan melalui benda-benda dalam bentuk yang dapat dilihat. Seperti budaya berpakaian terbuka tersebut mengambarkan karateristik suku pegunungan tengah papua yang memiliki nilai kasih yang tinggi. Nilai kasih itu melekat pada manusia sehingga ekspresinya dilihat dalam bentuk tindakan. Misalnya ketika seorang bunuh di didepan matanya, sekalipun orang tersebut ia belum mengenalnya tetapi secara spontan akan membalas oknum yang sasaran korban tanpa pertimbangkan Panjang, sebab nilai kasih sudah melekat pada dirinya berdarah dari gunung.
Maksud sih penulis; nama-nama lebal yang diberikan oleh pihak luar, makna yang terkandung di dalamnya tentu mempunyai pengertian yang negative. Pemberian nama tersebut berangkat dari hasil analisis dan tafsir tersendiri terhadap kelakuan seindividu orang yang itu kemudian mengambarkan karakteristika suku tersebut secara umum. Pada faktanya tidaklah demikian seperti klaim dan spekulasi mereka.
Oleh sebab itu, tolak ukul dari potret umum cikal bakal pemberian nama suku di atas harus mengadakan klarifikasi ulang awal pemberian nama tersebut, dari mana tempat?, siapa oknumnya?, mengapa ia memberikan sebutan nama suku sedemikian?. Sehingga tidak keliru dan salah paham oleh para regegenarsi berikutnya.
Dengan demikian bahwa: Ternyata Suku kami masyarakat kabupaten Intan Jaya, nama suku yang sudah lama miliki adalah Migani, bukan moni. berdasarkan dengan klarifikasi tentang MONI dan MIGANI oleh Frater Yeheskiel Belau; Ia berpandangan bahwa kata awalan secara otomatis terdapat kata MIGA. Miga artinya menunjukkan manusia yang sungguhan, membedakan dari segalah hal yang bukan sesungguhnya. Sehingga Miga menunjukkan manusia yang sungguhan. Miga tidak ditunjukkan untuk saja manusia, melainkan benda-benda yang dihasilkan alamia langsung tanpa disertai benda tambahan dari luar.
Sementara Suku Moni: dalam Bahasa Suku Mee yang artinya orang yan memiliki karakter keras kepala, suka perang terus, tidak bisa teratasi.
Hasil literasi singkat ini saya penulis (HENGKI WAMUNI) ambil sebuah kesimpulan bahwa Manusia sebagai makhluk subyek-subyek yang bereksistensi, yang memiliki kebebasan untuk berada, berbudaya, berjati diri dan berakal budi untuk berpikir tentang alam, budaya dan keberadaan diri kita sendiri demi tujuan yang mulia, yakni memelihara, menjaga, melestarikan dan mengangkat menjadi khasana identitas suku bangsa yang kokoh. Itulah sebabnya saya adalah Suku Migani.
sementara banyak kalangan yang berkeberatan dengan Suku Moni yang sudah terpopuler khalayak membumi sampai detik ini. Hal ini, kami fikir soal teknis yang bisa di atur, belajar dari pengalaman suku tetangga lain yang sudah sebelumnya pernah ganti nama Sukunya. Misalnya Suku Isani-Mee dll.



Komentar