PEMAHAMAN SUKU MONI TENTANG EMO
PEMAHAMAN SUKU MONI TENTANG EMO
(Literasi Oleh: Hengki Wamuni, Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura)
Manusia di jagat raya ini memiliki sejarah yang tersendiri-sendiri secara unik. Proses hidup manusia berawal dari sebuah perjalanan panjang dimana kenang berisi tentang versi sejarah yang khas. Sejarah kaitannya dengan lama berjalannya waktu. Dalam kurun waktu, ruang berawal dari manusia berkembang dari individu menjadi kelompok, masyarakat dan akhirnya terbentuklah suatu komunitas ras dan etnis. Di dalam ruang dan waktu, ada kembaran yang ketiga adalah kesempatan yang berisi hidup dan aktivitas-aktivitasnya sili berganti oleh regenerasi ke generasi. Tiga serangkai hidup dapat dipergunakan dalam waktu yang persamaan sepanjang hidupnya umat manusia di bumi. Dimana, manusia berada dalam tiga paket serangkai melalui proses interaksi sosial telah menciptakan namanya budaya dan tradisi.
Mustinya pahami dulu sebelumnya tentang budaya. definisi kebudayaan, secara sederhana dapat dipahami sebagai ciri khas atau jati diri manusia. Kebudayaan adalah pola tingkah laku masyarakat yang terbentuk kebiasaan-kebiasaan serta nilai, norma dan kesusilaan untuk memenuhi kebutuhan. Budaya merupakan akar dari manusia yang mengidentifikasi dirinya melalui kebiasaan adat istiadat yang membedakan dari satu rumpun, ras, etnis dan suku dengan yang lain.
Kebiasaan-kebiasaan hidup itu dari satu generasi ajarkan kepada generasi berikutnya secara verbal. Pendidikan diajarkan tentang nilai, norma dan kesusilaan. Sistem yang dapat digunakan dalam pembelajaran ini lebih ke intrinsik atau tertutup, yakni jalan cerita garis keturunan. Honai laki-laki menjadi tempat mendidik anak-anak. Tetapi juga menjadi tempat simposium terkait membicarakan tentang banyak hal, misalnya politik (organisasi budaya), budaya, bisnis, sejarah dan membicarakan prediksi untuk kehidupan masa depan.
Melalui interaksi sosial telah terbentuknya yang disebut dengan budaya terdiri dari tujuh unsur budaya secara universal. Tujuh unsur sistem budaya yang dimiliki semua suku bangsa di dunia terdiri dari Bahasa, Pengetahuan dan teknologi, kesenian, ekonomi, organisasi atau (politik), dan keyakinan. Karena budaya bermula dari Allah maka gambar ke-Ilahian menjadi kromosom turunan Ilahi ke dalam manusia yang juga memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dapat ekspresi dan dihidupi dalam dunia manusia. Misalnya; Keyakinan dan nilai hidup baik,“boleh atau tidak boleh-benar atau salah” merupakan pencerminan gambar turunan Allah melalui kebiasaan hidup manusia. Hal ini nampak dalam praktek-praktek dalam kehidupan suku bangsa. Ketika seorang individu melanggar hukum yang dianut masyarakat setempat memberikan sejumlah hukuman, baik sifatnya berat ataupun ringan sesuai ukuran tindakannya. Misalnya, Apabila seseorang melakukan zinah konsekuwensinya ikat leher dan digantungkan di atas pohon atau pelaku pasangan laki-laki dan perempuan membuang hidup-hidup ke dalam kali besar. Dalam kehidupan suatu suku bangsa memiliki hukum larangan, apabila anggota masyarakat melanggar, baik sengaja ataupun tidak sengaja menjatuhkan vonis dalam bentuk hukum berat dan ringan kepada mereka yang berlakukan penyimpangan. Misalnya tidak boleh membunuh, mencuri, gosip. Ada juga nilai hidup baik yang terus diperjuangkan dan dihidupi, misalnya nilai kasih merupakan falsafah hidup yang sudah lama tertanam pada kebiasaan kehidupan masyarakat pegunungan tengah, simpati mereka yang mengalami persoalan hidup, menyelesaikan suatu masalah sebagai upaya mencari kedamaian. Ini tanda bahwa sebelum ajaran agama Kristen datang dan diajarkan, umat Tuhan sudah ada pencerminan nilai-nilai hidup Kristen melalui kebiasaan dan tingkah laku hidup suku bangsa.
Pada awalnya Allah menciptakan manusia lalu dilengkapi dengan kecerdasan rasionalitas, teknik kreatif dan kehendak bebas untuk menentukan apa yang baik menurut pilihannya sendiri sebagai responsive tawaran Allah. Kemudian kemampuan itu diimplementasikan dalam berkuasa atas Ciptaan sebagai representasi Allah di bumi untuk memenuhi, jaga dan merawat dalam bentuk bertanggung jawab iman dan kasih serta kesetiaan melalui akuntabilitas bagi kemuliaan nama Tuhan sebagaimana maksud Tuhan terselubung dalam pelimpahan kewenangan tersebut. Pengejawantahan budaya dari Perspektif Kontekstual “mandat budaya” tentang prinsip kontekstual telah kita lihat bahwa penyataan Allah melalui Firman, Ia membuka tabir diriNya melalui penciptaan sebagai satu-satunya pilihan Allah ingin menyesuaikan diri dalam konteks atau budaya manusia sebagai subjek adaptatif Firman-konteks (manusia). Dan manusia sebagai gambar Allah, mereka mencoba praktek seperti apa yang Allah buat (kreatif) melalui budaya. Budaya pertama bermulai dari Allah (memiliki kebiasaan-kebiasaan dengan cara dan pola serta keunikan-keunikan sendiri-Kuasa, Kehendak dan Perintah) dan kemampuan kreasi diturunkan kepada manusia sebagai makhluk sempurna yang dilengkapi dengan trialpower tadi. Atas kebebasan inilah Allah memberikan pencobaan sederhana kepada nenek moyang kita untuk menguji kesetiaannya tetapi mereka jatuh dan tercemar manusia serta diikuti oleh seluruh ciptaan Tuhan.
Ilmu kontekstual memberikan penekanan pada konsep pengejawantahan budaya tentang pemberian kuasa untuk menaklukkan atas semua ciptaan Allah, berindikasi bahwa Allah sendiri berusaha untuk menyatakan keilahian-Nya dalam kondek yang bisa mengerti dan memahami serta menerima oleh manusia. Dan prinsip kontekstual itu terwujud yang paling tulen melalui konfigurasi (Inkarnasi) Yesus hadir ke dalam dunia mengambil rupa manusia. Yesus merupakan wujud Allah yang sempurna yang nyata (Ibrani 1:3). Dan perwujudan gambar Allah secara nyata melalui pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang percaya di Yerusalem pada hari pendakosta (Kisah 2).
Oleh sebab itu, Sebagaimana perspektif Alkitab tentang mandat budaya melalui pelimpahan wewenang kepada manusia, itu menandakan bahwa Ia ingin memasuki dalam konteks manusia, yang bisa dimengerti dan merasakan serta mengalami. Budaya itu berawal dari Allah. Kecerdasan kreatif merupakan gambaran Allah yang diturunkan kepada manusia, supaya melalui kreativitas itu manusia menghasilkan kebiasaan-kebiasaan heberaic budaya masing-masing suku bangsa setempat. Dalam eksistensi budaya, kebiasaan Allah itu masuk ke dunia manusia untuk dapat menyesuaikan diri dengan sebagaimana adanya.
Atas dasar prinsip kecerdasan kreatif inilah maka, manusia mampu menghasilkan sistem pengetahuan ala suku. Sebagaimana Filsafat merupakan sistem pengetahuan ala orang barat bermula dari orang Yunani Kuno, demikian pula mitologi sebagai dasar pijakan ilmu pengetahuan semua suku bangsa lebih spesifiknya peristiwa alam membentuk zona ekologi geografis maupun narasi-narasi terbentuk/munculnya garis keturunan suatu marga atau suku. Kreatif itu muncul dalam bentuk dan sifatnya yang berbeda-beda. Dalam fokus pembahasan ini, penulis menganalisis bahwa Emo merupakan salah satu bagian manifestasi dari kecerdasan kreasi dari aspek pengetahuan manusia. Pada dasarnya semua manusia memiliki rasa ingin tahu (kuriositas) dan ia selalu melontarkan pertanyaan spontan atas sementara apa yang ia mengamati, menghayati dan memikirkan terhadap apa yang melintasi di pandangannya secara tidak langsung.
Menurut perspektif sosio-religius, manusia adalah makhluk penyembah. Praktek tujuh unsur budaya, unsur religius menjadi dasar yang pada akhirnya tersimpul pada penyembahan. Misalnya aspek ekonomi manusia membutuhkan perobatan atau jenis kuasa supranatural yang memberikan kesuburan pada tanaman, sehingga manusia mulai melakukan hubungan dengan kuasa-kuasa gaib yang dianggap masyarakat setempat sebagai kekuatan yang mendatangkan kesuburan atas tanaman. Kontak dengan kuasa gaib tadi, masyarakat setempat melakukan ritual menurut kebiasaan tradisi setempat. Disitulah mengandung unsur penyembahan.
Oleh sebab itu, Emo dipahami oleh suku moni dari aspek pengetahuan tadi mereka pahami bahwa melalui pengamatan dan keheranan dengan melihatnya permukaan bumi yang luas lalu berfikir bahwa ada salah satu oknum yang memiliki kuasa dan kekuatan yang lebih besar mengatasi dan mengatur semua ini. Menurut penulis, bahwa Mitologi merupakan cikal bakal munculnya pengetahuan tentang bagaimana terjadi ekologis, geografi, muncul atau adanya air garam, munculnya suatu marga atau suku, munculnya suatu kali dan sebagainya; termasuk berspekulasi terhadap oknum yang mengkonstruksi dan mengawasi seluruh jagat raya ini. semua ini adanya cerita yang menarik dan kisah sejarahnya masing-masing.
PEMAHAMAN SUKU MONI TENTANG EMO
Gambar Allah dalam diri manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan masih belum dirusak total sewaktu manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Ambruk citra Allah pada manusia telah kehilangan kemuliaan dan semua orang ikut turut dalam sifat pembewaan dosa (Roma 3:23). Dalam hidup manusia dosa berkembang pesat dan hampir menang tetapi terang kebenaran bangkit dan mengalahkannya.
Awal munculnya konsep tentang emo, ketika itu ketakjuban melihat pesona alam dan permukaan alam yang besar dan luas. Mereka mencoba memikirkan siapakah oknum yang konstruksi dan mengatur semuanya itu. Tentunya ada sesuatu yang keberadaannya lebih besar dan berkuasa sebagai penguasa alam semesta. Ada penyebab awal sebagai oknum yang berdiri sendiri yang menyebabkan semuanya ini ada. Penyebab awal itu, mungkin memiliki kuasa yang tidak ada batas yang tidak bisa di batasi oleh ruang dan waktu, memiliki eksistensi natur yang berkekekalan. Tidak ada penyebab, jikalau tidak ada oknum yang sudah ada pertama, sebagai sumber menyebabkan dunia yang kita lihat secara tancap mata (visualitas). Dalam Enigma tentang spekulasi oknum yang pembuat skema mengandung unsur penyembahan berhala, dimana akal manusia tidak sampai pada jawaban yang memuaskan dan hal itu menjadi sesuatu yang mistis baginya. Dengan adanya sampai pada keterbatasan pengetahuan memastikan pribadi objek yang kontruksi, maka dalam memenuhi kebutuhan untuk ingin tahu tentang sesuatu makhluk supranatural tadi melahirkan animisme dan dinamisme.
Dengan analisis ini, kita mengerti bahwa karena adanya pemenuhan rasa ingin tahu mereka selalu pertanyaannya mengintai dalam bayangan mereka dan mencari kebenaran melalui praktek-praktek ritual. Kenyataannya sewaktu salah satu keluarga sakit mengadakan kontak dengan roh-roh para leluhur dan menanyakan oknum yang menyebabkan sakit. Ada juga yang pastikan lewat pertunjukan mimpi, setan apa yang sebagai penyebab utama mendatangkan musibah sakit atasnya. Secara teoritis, manusia selalu bertanya tentang toh akan kemana ketika manusia mengakhiri hayatnya. Adakah usaha selama berada di dunia yang kita berada sekarang ini untuk keselamatan roh. Adakah konsekuensi-konsekuensi dari upaya manusia yang akan menentukan kehidupan baru, kehidupan baru pada dunia baru, yaitu kehidupan yang terlepas dengan kehidupan materialistik yang penuh dengan tandangan dan persoalan yang selalu pikul/hadapi sepanjang hidup. Dengan pergumulan kebutuhan tadi telah melahirkan suatu penyembahan tradisional yang disebut dengan paham animisme dan Dinamisme menyemba terhadap alam, pohon, gua, binatang, bintang, bulan dan sebagainya sebagai harapan perlindungan atas ancaman hidup dan jaminan keselamatan baik sekarang ini maupun dunia yang akan datang.
DEFINISI EMO
Untuk lebih mendalami supaya kita mengerti secara gamblang, maka kita akan melihat definisi dari pada kata EMO secara terpisahkan. EMO pengertian secara harfiah dipahami sebagai permukaan bumi yang luas tanpa ada batasan-berujung. Tetapi definisi secara sinonim EMO adalah sebuah anggapan, secara kemungkinan ada salah satu oknum yang lebih besar sebagai penyebab utama yang sudah ada dari yang dapat nampak ini, sebagai penopang kehidupan dan pengatur jagat raya ini. Oknum itu kuasanya lebih besar. Makhluk supranatural yang bekerja melampaui batas dan kerjanya mengatasi langit dan bumi. Tempat keberadaannya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Secara probabilitas klaim bahwa ada makhluk di atas langit dan adapula makhluk lain di bawah bumi.
Oleh sebab itu definisi Emo merupakan suatu anggapan kemungkinan yang mengklaim bahwa ada satu oknum yang memiliki kuasa kekekalan sebagai penopang dan pengatur alam dan segenap yang dapat nampak. Oknum yang mereka angan-angan itu tidak pasti dan tidak jelas.
Emo pada waktu itu, mereka pahami tidak menunjukkan kepada oknum yang jelas sebagai objek penyembahan. Awal munculnya atau tokoh penemu EMO menurut kisah mitologi juga tidak jelas. Tidak menyangga kemungkinan besar penyebutan nama itu secara turun-temurun diungkapan dan diyakini oleh regegenerasi berikutnya. Penyebutan nama Emo itu, kemudian nenek moyang diungkapkan sewaktu orang melukai hati, melakukan kekerasan, mencuri, merampok dan membuat mereka rasa dirugikan sehingga konsekuwensinya membawa nasip malang. Secara tidak langsung mereka menyebutkan nama Emo, sebagai ungkapan pengaduan kepada makhluk supranatural tadi.
Seringkali sebutan nama Emo sebagai pengharapan akan pembalasan terhadap oknum yang berbuat masalah terhadapnya. Benar jawabannya cepat atau lambat akan terjawab, dia tetap akan menimpa bencana dalam hidupnya. mungkin saja melalui korban salah satu keluarga, bencana kelaparan, wabah penyakit lain dan babi mencungkir tanaman di kebun dan beberapa peristiwa lain menimpahnya. Maka, penyebutan nama Emo sangat ditakuti oleh nenek moyang pada waktu itu. Nama emo sebagai suatu nama Sakral dan tidak boleh menyebutkan dengan sembarangan. Masyarakat suku Migani sangat hati-hati dan tidak sembarangan menyebutnya, kecuali dalam kasus-kasus tertentu seperti sudah di jelaskan sebelumnya.
Generasi kontemporel yang lahir tahun kekinian, ucapan atau penyebutan nama EMO pada waktu itu, ada kuasa gaib yang memperalatkan harapan mereka itu benar-benar terjadi. Sampai kini masih orang percaya bahwa pikiran seseorang bisa menjadi sesuatu yang jahat, akhirnya menyebabkan orang lain jatuh sakit, menyimpa malapetakah dan membawa nasip yang malang, serta membuntuhkan jalan kesuksesan dalam hidupnya. Dengan praduga ini, kemungkinan besar bahwa pada waktu itu pikiran mereka itu diperalatkan oleh kuasa gaib. Karena EMO yang mereka pahami waktu itu kabur.
PENEMU...?
Oleh sebab itulah, maka nama EMO telah lama ada berdasarkan mungkin saja melalui kisah mitologi kemudian menceritakan kepada generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan budaya (enkulturasi) atau mungkin juga secara langsung, karena itu sudah menjadi pengetahuan sosial di kalangan masyarakat setempat. Nah, berangkat dari cerita mitologi ini menjadi bahan ajaran untuk orang tua mengajarkan (menceritakan) kepada anak-anaknya tentang terbentuknya ekologi dan geografi, munculnya air, marga dan seterusnya termasuk juga tentang Emo tadi.
Pada prinsipnya Allah menciptakan manusia dan melengkapi dengan kekayaan rasional-akal, kehendak bebas dan daya kreatif. Berdasarkan dengan kecerdasan kreatif, otomatis manusia akan berimajinasikan, beraksioma dan premis dan menciptakan sesuatu, baik dalam hubungannya dengan kognitif, psikomotorik dan kreativitas lainnya. Tetapi juga jangan lupa bahwa manusia adalah makhluk sosio-religius yang dalam tindakan-tindakannya akan mendewakan-dewan terhadap sesuatu yang dianggap mampu memberikan pertolongan dan perlindungan atas ancaman hidupnya. Singkat kata bahwa berdasarkan dengan kelengkapan kemampuan tadi manusia telah menciptakan budaya melalui proses interaksi sosial untuk memenuhi tujuan-tujuan dan kebutuhan mereka bersama.
Penyembahan berhala itu suatu hal yang wajar dan alami untuk memenuhi kebutuhan jiwanya. Berhubungannya dengan dunia sekarang setelah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran sudah jelas objek penyembahan manusia. dibandingkan dengan dulu, penyembahan mereka memusatkan dalam keadaan tanpa sadar akan mengandung penyembahan berhala.
Karena itu tindakan para utusan zenting dari Kanada, Amerika, Eropa sangat menentukan terhadap kebudayaan setempat sebagai tempat sasaran Penginjilan. Tetapi nyatanya tidaklah demikian. Kebudayaan dan Injil yang mereka di bawah merupakan sesuatu yang sempurna dan kudus. Diwajibkan harus terima dan dihidupi, sementara budaya sendiri telah dihilangkan, karena menurut para zenting kebiasaan-kebiasaan setempat itu bertentangan dan menghalangi jalannya menuju keselamatan yang asli. Sehingga pada penerapannya; Injil menjadi suatu kekuatan pemangkas budaya setempat dan memaksakan menerima budaya dan nilai-nilai ajaran agama baru sebagai usaha kewajiban utama yang masyarakat setempat menerima hiraukan seberapa besar mereka menjadi korban dari jati diri mereka. Hal yang sama juga telah dilakukan oleh para penterjemah Alkitab bahasa Suku Migani melalui ubah nama EMO menjadi AIGA SONOWI. Penyebutan nama TUHAN, tidak ada nama yang paling murni dan asli. Nama-nama Tuhan langit dan bumi ini adalah menurut dari bahasa Yunani, Ibrani dan Aram. Mereka menyebutkan Nama-Nya sesuai dengan bahasa setempat. Demikian juga nama Emo adalah nama yang paling tua dan sudah ada dari duluh. memakan waktu yang cukup tua.
berangkat dari pengalaman pelayanan oleh para misionaris di daerah-daerah yang terbelakang dan tertinggal oleh jangkauan Injil, budaya menjadi alat kontak Injil dengan orang-orang sasaran Injili. Nama atau suatu sebutan yang mengandung sprit dan menjadi pengetahuan umum di tengah masyarakat, nama ini diadopsi dan dapat digunakan oleh pesiar Injil untuk penyebutan nama TUHAN. Makna yang terkandung terhadap suatu nama tersebut di ubah menjadi arti kebenaran Firman TUHAN. Tujuannya supaya makna kebenaran yang di bawah oleh pesiar dapat diterjemahkan ke dalam bahasa dan arti yang dimengerti klien.
Pengalaman lain juga tentang penentuan dan penetapan hari raya orang Kristen. Hari raya perayaan yang menyembaha berhala merubah menjadi perayaan yang menyembah Tuhan. jadi semua ini dibuat, sengaja supaya usaha itu menjadi alat kontak INjil dengan budaya setempat dimana sasaran penginjilan tadi.
Namun demikian, para pesiar Injil di tanah Papua, bersama rompongan penterjemah Alkitab ke dalam bahasa Suku Migani sudah melanggar etika lintas budaya. Lebih lihat dalam ulasan pada kritik di bawah ini.
KRITIK
Pada awalnya utusan zenting membawa berita kabar baik (Injil) ke papua telah melakukan penyimpangan dari budaya setempat. Injil itu berisi tentang kabar keselamatan, kabar baik, kabar sukacita, kabar gembira yang memberikan kebebasan bagi manusia yang berada dalam ranta cengraman kuasa dosa, kegelapan, nilai-nilai hidup yang dicemar oleh dosa dan mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan kristiani supaya nilai atau perilaku masyarakat yang melayani dosa diubah menjadi melayani Tuhan. Namun berbeda dengan kogrit yang yang sekarang kita lihat. Tindakan para utusan misi tadi melakukan pemusnahan budaya setempat, akibatnya masyarakat Papua telah mengalami kehilangan jati diri. Setelah beberapa tahun berlalu, kami paham dan sadar bahwa ternyata para utusan misionaris untuk di papua telah melakukan imoralitas bertentangan dengan etika dan prosedur seorang penginjil yang metodenya penginjilan basis lintas budaya. Misalnya perlawanan rakyat pribumi terhadap misionaris melalui perang obano (1956). Gerakan Zhakeus Pakage ...?. Injil hadir sebagai kekuatan yang menghadirkan pembaharuan atas nilai-nilai, norma hidup masyarakat, melaluinya memperbaiki pola hidup menurut ajaran iman Kristen sehingga benar-benar Injil itu ada relevansi dengan budaya setempat. Bukan berarti Injil menjadi anti budaya setempat, kemudian berusaha untuk memusnahkannya. Itu ajaran yang tidak benar. Para Penginjil mungkin sudah lupa bahwa tugas utama yang harus sadar dan mengerti triaktika apostolik, yakni mengerti konteks teks, konteks penginjil dan konteks setempat, sehingga mudah adaptasi dengan budaya setempat. Allah adalah prakarsai atau pelaku utama berkonteks melalui penciptaan, sejara keselamatan nenek moyang, melalui inkarnasi Yesus menyatakan gambar lengkap Allah kepada manusia (Ibrani 1:3), serta sedikit nampak gambar ilahi atas manusia melalui pencurhan Roh Kudus di Yerusalem pada waktu hari pentakosta. Roh Kudus menjadi kehidupan dan kekuatan serta penopang hidup manusia yang percaya akan Tuhan sebagai juruselamat kita. Allah menyatakan kehendakNya melalui budaya dan keadaan konteks setempat dan budaya untuk nyatakan kebenaran Allah kepada manusia.
Para penerjemah Alkitab bahasa Moni/Migani telah meresapi akal dengan pikiran-pikiran orang barat (Amerika, Eropa dll) tadi yang beranti dengan budaya pihak lain, sehingga budaya dan falsafat hidup suku Moni/Migani di kabupaten Intan Jaya menjadi tempok penghalang terhadap Injil masuk (menurut klaim misionaris). Para penterjemah Alkitab tidak menyadari bahwa Emo sejak lama ada di suku moni/Migani. Mungkin mereka pahami sebagai nama yang mengandung unsur penyembahan dan akan berpengaruh pada iman jikalau nama itu digunakan ke dalam sebutan untuk nama TUHAN. Sehingga EMO di ubah menjadi AIGA SONOWI.
Menurut hemat penulis menyadari bahwa budaya sasaran penginjilan sebenarnya merupakan sebagai suatu sarana melaluinya para misionaris melakukan kontak dengan masyarakat setempat, dengan pendekatan ini bermaksud untuk menarik jiwa masyarakat setempat. Misalnya Hari Raya Natal, menjadi perdebatan para teolog dan ilmuwan bahwa ada yang berspekulasi tentang adopsi dari tradisi perayaan penyembahan kepada dewa-dewa orang yahudi, ada juga yang berpendapat bahwa hari raya penyembahan dewa Venus dan yang lain berpendapat bahwa, hari raya penyembahan dewa kesuburan. Alasan adopsi kebiasaan setempat menjadi hari raya orang Kristen, sebagai suatu cara atau pola penginjilan berparalel dengan konteks setempat. Injil itu menyesuaikan diri dengan budaya setempat sebagai suatu sarana menyatukan Injil dengan kebiasaan hidup masyarakat setempat sehingga benar-benar mereka menghidupi dan lerevansi kebenaran itu ke dalam kebiasaan tingkah laku masyarakat setempat.
Karena itu penulis memahami bahwa, nama Emo yang sudah lama ada itu mengandung makna yang lebih umum, yakni berdiri secara vertikal tetapi juga horizontal.
Jadi secara gamblang dipahami bahwa Emo itu tidak berdiri secara vertikal yang menunjukkan ketas saja seperti “Aiga Sonowi” tadi, melainkan merangkum segenap secara universal.
Kami sangat diharapkan untuk saran dan kritik dan argumen anda atas artikel ini demi perbaikan kita bersama.
HENGKI WAMUNI



Komentar