GEREJA MEMAHAMI INJIL PERSPEKTIF PAPUA
GEREJA MEMAHAMI INJIL PERSPEKTIF PAPUA
RefleksiOleh: Hengki Wamuni, Mahasiswa Teologi [Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura].
Topik ini sangat luas dan dalam makna dan perlu adanya riset serta dedikasi membutuhkan waktu yang panjang.
Akan tetapi dalam ulasan ini akan dipersoalkan sikap hamba Tuhan terhadap realita sosial ketika umat dibantai seperti hewan dan binatang. Sikap perlindungan dan keberpihakan kepada yang lemah, yang ditindas. Menyuarakan bagi kaum yang tak bersuara.
Untuk menjawab pertanyaan Tuhan Yesus, pertanyaan yang sangat tegas dan menyedihkan kepada murid-Nya SIMON yang disebut juga dengan Petrus, kepadanya Ia berikan pertanyaan yang sama tiga kali, yakni “Gembalahkanlah Domba-domba Ku. Gembalahkanlah Domba-domba Ku. Gembalahkanlah Domba-domba Ku.
Pertanyaan ini sangat tajam bagaimana menjaga dalam penjagaan domba dengan baik yang sangat diharapkan Tuhan Yesus sebagai tugas utama pekerjaan besar-Nya. Melindungi atas buruan Singa liar dan sangat kuat dan terhadap perampok.
Oleh karena itu untuk memahami Injil dengan seutuhnya berarti bukan hanya soal surga-surga saja lalu bagaimana dengan dunia di tengah realita ini. Nah ini adalah pembatasan refleksi saya dalam tulisan ini.
Injil dipahami seutuhnya, bukan sebagian-sebagian. Injil hadir dalam dunia yang realita bukan dunia yang hampa.
Sebelumnya supaya mudah mengerti, perlu memberikan artian
DEFINISI
1. Gereja
Secara sederhana gereja dipahami sebagai persekutuan orang-orang yang sudah bertobat dari pengalaman hidup masa lalu yang gelap menuju masa depan yang terang kepada terang KRISTUS.
Gereja secara umum merupakan manusia adalah rumah TUHAN. Tidak ada tempat untuk anak manusia meletakkan kepala-Nya (......). subjektif berhubungan dengan persekutuan merupakan reaksi memenuhi tuntuan ALLAH manifestasi dalam bersekutu orang-orang yang sudah keluar dari kegelapan.
2. Injil
Kalau Gereja itu manusia maka Injil adalah kekuatan ALLAH. Injil itu perwujudan rahasia transenden penciptaan ALLAH, dimana manusia hidup sempurna dalam hubungan yang sempurna didalam permukaan kehidupan yang sempurna pula.
Oleh karena itu, definisi hubungan antara gereja dan Injil merupakan kekuatan ALLAH yang menyelamatkan manusia dan perkumpulan paguyuban dalam iman yang menuju dan berpusat kepada ALLAH yang benar.
Objektif Injil dan Gereja ialah prakarsai TUHAN. Subjektif inisiatif itu konstruksi ALLAH perwujudan kesempurnaan penciptaan yang dinyatakan ketika maksud gnostik itu dilanggar oleh manusia melalui ketidaktaatan terhadap perintah ALLAH. Seolah-olah kabar baik itu suatu penghamparan kabar baru.
Dengan adanya ketidaktaatan manusia pertama maka ambruklah dunia yang serba sempurna. Berdasarkan pemahaman manusia evatengelium ALLAH merupakan janji konservasi ALLAH dan kabar baru yang menempusi kehidupan manusia (Kejadian 3:15). Menurut hemat saya bahwa kabar baik ALLAH pertama di Taman Eden adalah sedikit perwujudan rencana kekal ALLAH yang real yang telah Ia sudah rancang masa depan hidup penciptaan-Nya (Yesaya 55:8-9). Tampaknya sedikit atau semacam bayangan maksud Penciptaan sempurna Allah. Hal ini pandangan misiologi merupakan Heilgeschichte (sejarah Keselamatan ALLAH)
Oleh karena itu, bukan tujuan refleksi untuk itu melainkan, hal-hal yang tersempunyi adalah bagi Allah adalah bagian dari masalah Tuhan (Ulangan 19:19; Penghotbah 5:11; Yesaya 55:8-9)
Ulasan ini berlandaskan pada pertanyaan “menurut kamu (papua) siapakah Aku ini berdasarkan perspektif papua? Bagaimana gereja (manusia) papua memahani Injil itu dalam konteks dini hari di papua?
Pertanyaan inilah yang menjadi bahan refleksi.
Secara subjektif Injil harus memahani manusia seutuhnya. Injil menyelamatkan umat manusia dan menyatakan kebenaran ALLAH (Roma 1:16-17). pada hakekatnya Injil adalah kabar gembira yang membebaskan umat manusia yang tertawan dan tertindas dalam dosa.
Oleh karena itu, Injil meliputi: Kabar Baik, Kabar Sukacita. Kabar Damai yang mendamaikan Allah dengan manusia, Damai antara Manusia dengan Sesamanya, dan yang mendamaikan Manusia dengan Alam. Kabar yang Menyelamatkan, Kabar yang Membebaskan, Kabar yang Memberikan Pengharapan Jaminan Kepastian hidup kekal bagi orang beriman dan percaya kepada Injil itu. Injil yang memberikan transformasi dalam kehidupan umat manusia.
Meneguhkan dan inti isi berita Injil oleh rasul Paulus (I Korintus 15: 1-4), yaitu tentang; Kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus.
INJIL KONTEKS PAPUA
Selama ini gereja menjadi tempat induk menumpuk harapan terakhir bagi rakyat papua. Gereja menjadi benteng terakhir bagi orang asli Papua. Pengalaman perjuangan gereja-gereja di Asia timur tengah menjaadi pengalaman perasangsangan gereja di papua untuk melakukan kontekstualisasi teologi dalam realita sosial dimana menuju pada kepunahan rakyat papua dari atas negerinya sendiri secara cepat.
Membela dan memihak kepada kaum yang tertindas, miskin dan marginal adalah misi utama ALLAH di dunia ini untuk membebaskan dari cengkraman cakrawala penindasan secara psikis maupun fisik. Manusia memiliki citra dan gembar Allah yang setara. Perbedaan itu unik, anugerah ALLAH yang diberikan secara Cuma-Cuma. Kemajemukan ras dan kultul bukanlah sebuah tempok pemisah. Dalam keragaman agar membanggun suatu hubungan yang harmonis untuk membangun tubuh Kristus dimana setiap umat manusia adalah anggotan-Nya (Efesus 5:30). Puncak keselamatan ALLAH nyata dalam pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Keluran).
Pola hidup dan tradisi yang menindas sesama manusia adalah agenda perjuangan YESUS. YESUS membawah misi kemanusiaan bagi kaum yang merindukan emansipasi, baik secara psikis maupun fisik. Misi penyembuhan atas kerasukan setan, penderitaan yang berkepanjangan, misi pemenuhan kebutuhan pangan, misi pendidikan dan pengajaran, misi melawan dosa struktural dalam lembaga politik pemerintahan (Yesaya 61:1-2).
Inkarnasi ALLAH dalam wujud KRISTUS telah ditinggalkan bagi Gereja untuk menyeruhkan suara kenabian soal perikemanusiaan. Problem kemanusiaan tidak terbatas oleh agama, suku, ras dan golongan. Hal ini berbicara tentang eksistensi martabat manusia yang setara di mata TUHAN sebagai ciptaan gambar dan rupa-Nya. Musti Gereja di tanah papua harus memiliki misi yang sama dengan tema kampanye dalam perjuangan orang Afrika Selatan “Kebenaran itu memerdekakan, tetapi diam itu membunuh”. Keselamatan bukanlah hasil dari usaha kita sendiri melainkan diberikan secara Cuma-Cuma oleh ALLAH (predestinasi).
Masalah kemanusiaan adalah sebagai masalah semua manusia di planet bumi ini. Oleh sebab itu, problem kemanusia dilihat sebagai masalah universal yang tidak dibatasi oleh golongan, agama dan ras. Demikian pula penegakkan martabat manusia atas stigmatisasi diskriminasi rasial adalah penegakkan keberadaan manusia sebagai ciptaan Allah.
Hak-hak dasar bagi rakyat papua telah diabaikan selama bertahun-tahun sejak 1961 hingga tahun 2020 tidak berubah nasip rakyat papua. Kehadiran Undang-undang nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di papua menamba penderitaan di atas tanah ini. Penerapan OTSUS di papua selama 19 tahun silam secara terang-terang mengatakan dalam acara TRANS 7 (MATANAJWA) 27 Juli 2020 Gubernur Papua Lukas Enembe S.Ip MH, selaku kepala wilaya menegaskan bahwa “Indonesia tidak berhasil membangun Papua secara efektif. Otsus tidak pernah akan menjamin orang papua”. Sebagai seorang desentralisasi perwakilan pemerintah pusat di daerah merasa bahwa benar-bear tidak merasa adanya kepercayaan sebagai kepala wilaya.
Pasalnya Tidak ada ruang sebagaimana amana UU OTSUS untuk menjamin hak-hak rakyat papua dan mandiri dan mengurus dirinya sendiri. Yang jelas UU Otsus lahir atas tuntutan rakyat papua untuk referendum ingin dibebaskan dari pengaruh indonesia dan berdiri sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat seperti bangsa lain di dunia.
Rentetantan insiden yang terjadi sejak tahun 1960 kala dulu, secara spontan mendorong bangsa papua untuk menyatakan sikap tidak terima atas semua tindakan genosida atas orang papua. Demisioner KNPB dan Juru Bicara Jubir Iternasional Viktor Yeimo, meringkas persoalan papua sebagai berikut: tahun 1961 (Ekspansi), 1969 (Aneksasi), 2001 (Politisasi) dan 2020 (Kapitalisasi).
Penilaian orang asli papua implementasi otsus di papua gagal melihat dengan uang dan kesejetraan tidak pernah akan membalut luka batin orang asli papua.
Haris Azhar, Penghiat HAM dan direktur LOKATARU seorang advokasi Hak Azasi Manusia, dalam diskusi di Club TvOne 4 September 2019 mengatakan di meja Mata Najwa Sihab:
"Saya menganggap dan meyakini bahwa masalaah di papua adalah lama, luas dan dalam. Otsus lahir untuk upaya resolusi konflik ternyata hasilnya sama saja. Apa yang dilakukan pemerintah hari ini tidak merubah apa yang sudah dilakukan pemerintah di jakarta kepada orang asli papua selama puluhan tahun. Jadi pendekatannya pendekatan kekerasan dan kirim pasukan keamanan. Pemerintah dianggap situasi yang terjadi di papua adalah peristiawa biasa dan reseden. Kalau negara muncul bukan sekedar mukanya atau depersensi datang ke papua, tetapi dia hadir dengan kebijakan dan rencana itu akan luar biasa, itu akan menyiadakan atau membunuh hasrat-hasrat jahat yang selama ini kita dianggap ada di orang-orang papua. Persepsi jakarta identifikasi fisiknya bukan materinya. Ketika orang papua teriak masalah substansi soal pelanggaran hukum, diskriminasi, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan, perburuhan atas nama kemanan negara dan itu dinyatakan nanti papua ujungnya berbahaya dan dikedepankan adalah identitas merah putih/NKRI. Yang salah ketika jakarta menutupi upin mata untuk melihat masalah substansial. Membangun papua harus pendekatan papua"
Problem di papua, luka lama yang sudah busuk dan bernana di tubuh indonesia yang cukup lama luas dan dalam tidak ada pendekatan lain, selain keterbukaan indonesia melihat masaah substansial yang ada di papua. Tidak hanya melalui evaluasi hal keamanan dan penegakan hukum tetapi membuka semua perampokan yang merusak alam dan lingkungan memperburuk siatuasi di papua.
Itulah dimana masalah substansial yang selama ini disepelehkan dan abaikan di mata Jakarta, dan identifikasinya pendekatan fisik melalu keamanan upaya penanganan problem papua. Hal ini memperburuk situasi di papua, manifestasi orang papua mengalami panik, trauma, diskriminasi, diindrogasi, penangkapan, pengejaran/pemburuan dan pembunuhan terhadap orang asli papua yang pemilik dan tuan rumah dari atas tanahnya sendiri. Realita ini menambah semangatnya untuk giat terus berjuang dalam rangka upaya bebas dari pengaruh kolonial.
Membalut luka lama orang papua akan terlihat ketika orang papua bebas dari pengaruh tangan kloni dan berdiri sendiri untuk bangun negerinya sendiri secara damai dan bermartabat.
Masyarakat papua sebagai sasaran pelaksanaan pembangunan dan penerapan kebijakan pemerintah telah dinilai Otsus gagal total membangun papua. Para pemimpin gereja-gereja besar di west papua menilai Otsus sudah mati. Bahkan pemerintah sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah Gubernur Papua pun mengakui dan menegaskan; Indonesia tidak berhasil membangun papua. Otsus tidak pernah menyelesaikan persoalan di papua.
Dr. Jochen M, wakil Sekretaris Jenderal United Evangelical Mission, dalam kujungan Tim Delegasi gereja Sedunia pada tahun 1999; “Sanggat sedih menyadari bahwa masalah yang disebutkan dalam laporan saat itu, saat ini hampir masih sama dan bahwa status otonomi khusus tidak dapat memenuhi harapan rakyat papua dan mengakhiri diskriminasi dan pelanggaran Hak Asasi Manusia”.
Demikian pula tanggapan, Dr. Emly Welty, Wakil Moderator Komusi WCC untuk urusan Intersnasional, mengatakan, “Model pembangunan di wilaya ini adalah untuk orang lain, bukan untuk orang asli papua”.
Bertolak belakang dengan realitas yang terjadi di atas tanah papua, maka pertanyaan yang musti harus di jawab oleh para semua OAP atau lebih khusus para hamba-hamba TUHAN di papua adalah’ Bagaimana gereja menyatakan dalam realitas kehidupan umat TUHAN di Tanah west papua?
Pesan Salib sangat jelas bagi Gereja TUHAN di bumi ini. Pesan Injil sanggat tegas bagi orang-orang kudus dan imamat yang rajani di dunia ini. Pesan YESUS kepada Rasul Petrsus, dan kita semua sanggat terang “Gembalakanlah domba-domba-Ku. Gembalakanlah domba-domba-Ku. Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes 21:15-19).
Lanjutkan



Komentar